Niat dalam Menikah

26 December 2016 at 23:49 | Posted in Al-Ilmu, Ceritaku | Leave a comment
Tags: , , , ,

Agama Islam yang sempurna ini telah mengatur seluruh urusan manusia. Segala aspek kehidupan manusia telah diatur dengan sedemikian indah. Bahkan, dalam urusan mencari jodoh dan berumah tangga, Islam telah mengaturnya dengan sebaik-baiknya.

Tentang pernikahan, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Namun, langkah awal dan utama adalah melihat pada diri kita sendiri. Yang saya maksud melihat pada diri kita sendiri adalah menanyakan apa niat kita ingin menikah. Hal ini karena niat adalah pangkal diperhitungkan amalan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya, setiap orang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Seseorang yang berkeinginan kuat untuk menikah hendaklah mengoreksi qolbunya. Tanyakan kepada qolbunya, “Apa niatmu untuk menikah; Apakah engkau menikah dalam rangka ibadah kepada Allah? Apakah engkau menikah karena Allah (ikhlas karena-Nya)? Apakah engkau menikah dalam rangka menjalankan perintah Allah?” Qolbunya akan jujur menjawab tiga pertanyaan tersebut. Perhatikan niat yang ada di dalam kalbu ini. Sebab, niat menjadi penentu yang menyebabkan sukses atau gagalnya sebuah amalan. Allah Yang Mahabijaksana berfirman :

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (al-Bayyinah: 5).

Maka perhatikan dirimu. Apa niatmu untuk menikah?

Apa hanya ingin dilihat orang? Apa karena banyak yang bilang

“Kamu kapan nikah? Nunggu apa lagi?”

“umur udah pas, penghasilan udah, nunggu apa lagi?”

“dia aja berani nikah muda … kamu ga berani?”

“dia nikah saat kuliah lho, kamu berani ga?”

dan pertanyaan sejenis lainnya.

Karena menikah adalah ibadah dan amalan sholeh, jangan sampai ibadah ini diniatkan bukan mencari ridho Allah tapi malah ridho manusia. Aku berlindung dari Allah ta’ala dari niat bukan karena Allah dan dari bisikan setan-setan yang Allah murkai.

 

P.S.: maka ambil hikmahnya saja jika banyak orang yang menanyakan tentang kapan nikah? Ambil hikmahnya kalau dia mungkin sedang mengingatkan kita akan ibadah menikah ini. Dan benar adanya bahwa jodoh itu sudah tertulis di Lauhul Mahfuz walaupun kita sudah berusaha menempuh cara-cara sesuai syariatnya namun belum jua kunjung berlabuh. Karena mereka yang menanyakan itu hanya ingin tahu outputnya (undangan nikah atau prosesi pernikahannya) dan bukan prosesnya.

 

*penambahan dari Artikel “Tuntunan Pernikahan Syari’i bagian 1” karya Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah bin Halil dan Ummu Luqman Salma

Shalat Gerhana dalam Tuntunan Sirah Nabawiyyah

26 April 2013 at 15:13 | Posted in Al-Ilmu | Leave a comment
Tags: ,

Penulis : Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullah.

Di dalam keindahan ajaran syariat Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah tuntunan beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam yang sangat indah tatkala terjadi gerhana, yang merupakan peristiwa besar dalam pandangan syariat Islam. Bagaimana tidak, Pencipta matahari dan bulan memberitakan bahwa Gerhana merupakan tanda yang Dia jadikan sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya akan ancaman adzab-Nya yang maha dasyat, serta peringatan akan kengerian azab kubur dan hari kiamat. Sikap takut, tunduk, dan khusyu’ benar-benar ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika terjadi peristiwa tersebut.

Diantara yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah bersegera melaksanakan shalat gerhana. Dengan bentuk pelahsanaan yang berbeda dari shalat-shalat lainnya, yaitu dengan memanjangkan bacaan, dua kali ruku pada setiap rakaat, dan memanjangkan ruku dan sujudnya.

Waktu Pelaksanannya

Sebagaimana pada edisi sebelumnya, pelaksanaan shalat gerhana terkait dengan ru’yah, bukan dengan hisab. Waktu pelaksanaannya terbentang mulai dari awal terjadinya gerhana, maka hendaknya bersegera melaksanakan shalat sejak awal proses gerhana, tidak perlu menunggu puncak gerhana tersebut. Waktu shalat gerhana berakhir ketika proses gerhana selesai. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila kalian melihatnya (gerhana) maka shalatlah dan berdoalah hingga tersingkap kembali.” (Muttafaqun ’alaihi). Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam memanjangkan shalat gerhana sepanjang terjadinya gerhana matahari.

Gerhana Apakah yang Disyariatkan Shalat Padanya?

Sebagaimana diketahui, gerhana matahari dan gerhana bulan ada beberapa macam, ada gerhana total, sebagian, cincin dan lain-lain. Maka semuanya disyariatkan shalat gerhana padanya.

Hukum Shalat Gerhana

Ada 2 pendapat di kalangan ulama tentang hukum shalat gerhana:

1. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat hukumnya sunnah mu’akkadah. Landasan pendapat ini adalah: Kisah seseorang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya tentang apa kewajibannya dalam Islam, maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyebutkan shalat 5 waktu. Orang tersebut lalu bertanya, apakah ada kewajiban shalat selainnya? Maka Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ”Tidak ada, kecuali jika engkau mau shalat sunnah.” (HR. Al-Bukhari no. 2481 dan Muslim no. 11) Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ’anhu ketika diutus berdakwah ke negeri Yaman, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan kepadanya, ”Sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu.” (HR. al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19) 2. Sebagian ulama lainnya berpendapat hukumnya wajib. Landasan pendapat ini adalah teks perintah Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hadits tentang gerhana yang bersifat perintah, ”… apabila kalian melihatnya (gerhana) maka shalatlah…”

Karena merupakan perintah, maka sebagaimana dalam kaidah ushul fiqih, ’perintah’ menunjukkan kepada makna wajib, kecuali apabila dalil lainnya yang memalingkan dari makna wajib kepada makna sunnah. Sedangkan dalam konteks gerhana ini tidak ada dalil lainnya. Adapun dua hadits yang dijadikan dalil oleh jumhur di atas, tidak berarti meniadakan adanya shalat-shalat lain selain shalat lima waktu yang hukumnya wajib. Karena yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam dua hadits tersebut aadalah shalat yang kewajibannya bersifat mutlak. Namun di san ada shalat-shalat lainnya yang hukumnya juga wajib karena ada sebab-sebab tertentu, mislnya shalat jenazah, shalat ’Id, shalat tahiyyatul masjid, termasuk dalam hal ini shalat gerhana.

Menurut hemat kami (penulis), alasan pendapat kedua ini cukup kuat. Bagaimana tidak, disamping adanya perintah yang sangat tegas pada hadits di atas, gerhana yang merupakan tanda peringatan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, demikian pula bagaimana sikap yang ditunjukkann oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam sangat ketakutan, sangat khusyu’, melakukan shalat yang berbeda dari shalat-shalat lainnya, kemudian beliau berkhutbah dengan khutbah yang mendalam; kondisi yang demikian menunjukkan indikasi yang sangat kuat bahwa shalat gerhana tersebut merupakan kewajiban. Sunggu suatu hal yang kontras apabila datang peringatan, namun manusia tetap di tokonya, di kantornya, di sawahnya, dan seterusnya seperti sedia kala tidak merasa ketakutan dan tidak bersegara menuju shalat.

Asy-Syaikh Ibnu ’Utsaimin Rahimahullah berkata, ”Pendapat yang menyatakan wajib lebih kuat dibandingkan yang sunnah. Namun, wajib di sini adalah wajib (fardhu) kifayah.” (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/ 182)

Disyariatkan Berjamaah di Masjid, Boleh Pula Sendiri-sendiri

”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam keluar menuju masjid, beliau berdiri dan bertakbir (yakni shalat gerhana, pen) dan para makmum bershaf di belakang beliau…” (HR. Muslim no. 901)

Al-Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata, ”Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan melaksanakan shalat gerhana di masjid yang dipakai juga untuk shalat jum’at…hadits ini juga menunjukkan disunnahkan melaksanakannya secara berjamaah, boleh pula dikerjakan dengan sendiri-sendiri.” (Lihat Syarh Shahih Muslim hadits no. 901).

Tidak Ada Adzan dan Iqomah, Namun Diserukan ”Ash-Shalatu Jami’ah”

Berdasarkan hadits dari sahabat ’Abdullah bin ’Amr Radhiyallahu ’anhuma, ”Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasul diserukan, ”Inna ash-Shalata Jami’ah.” (HR. Al-Bukhari no. 1045) dalam lafadz lain ’Ash-Shalatu Jami’ah” (HR. Muslim no. 901). Al-Imam an_Nawawi Rahimahullah berkata, ”Disenangi untuk diserukan ’ash-shalatu Jami’ah’ pada saat gerhana, dan para ulama sepakat tidak ada adzan dan iqomah padanya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim hadits no. 901).

Makna “Ash-Shalatu Jami’ah” adalah, “Sesungguhnya shalat mengajak kalian berkumpul (maka hadirilah).” Seruan tersebut bisa diulang beberapa kali sesuai kebutuhan, terutama pada shalat gerhana bulan yang dilaksanakan pada malam hari.

Tata Cara Shalat Gerhana

Sebagaimana diketahui melalui keterangan hadits-hadits yang shahih, gerhana pada masa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam hidup terjadi hanya sekali, yaitu gerhana matahari total yang terjadi pada tahun ke-10 hijriah. Keterangan tentang cara shalat gerhana tersebut diriwayatkan dalam beberapa hadits dari beberapa sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Diantaranya, hadits dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengeraskan bacaan dalam shalat gerhana, beliau melaksanakan shalat 4 kali ruku dalam 2 rakaat, dan 4 kali sujud.” (HR.Muslim no. 901)

Keterangan dari beberapa hadits tentang tata cara shalat gerhana Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bisa disimpulkan sebagai berikut: Continue Reading Shalat Gerhana dalam Tuntunan Sirah Nabawiyyah…

Membantah Ahlul Bid’ah, Sebab Perpecahan?

9 November 2011 at 17:43 | Posted in Al-Ilmu | Leave a comment

Banyak orang mengatakan bahwa pihak-pihak yang membantah ahlul bid’ah mereka itu adalah penyebab perpecahan.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan: Benar, mereka itu adalah penyebab perpecahan (yakni yang membedakan dan memisahkan, pent) antara yang haq dengan yang batil, ini yang benar.

 

Kami membedakan/memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, antara ahlul haq dengan ahlul bathil. Senantiasa kami akan membantah (kebatilan dan para pelakunya), demikian pula para ulama juga membantah mereka.

Yang seperti ini bukanlah untuk membikin perpecahan, akan tetapi justru ini untuk menyatukan umat di atas al-haq. Karena keberadaan umat manusia di atas kesesatan dan di atas pemikiran-pemikiran yang batil, inilah sesunggguhnya yang menyebabkan perpecahan antar umat Islam.

 

Adapun upaya untuk menjelaskan al-haq kepada mereka (umat Islam) adalah dalam rangka menyatukan umat di atasnya, maka inilah sesungguhnya dakwah kepada persatuan, bukan dakwah kepada perpecahan.

 

Dikatakan dakwah kepada perpecahan itu apabila tidak ada upaya untuk membantah ahlul bathil. Inilah sesungguhnya dakwah kepada perpecahan jika mereka memahaminya.

 

(Dari Ta’liq terhadap kitab Syarhus Sunnah, karya Al-Imam Al-Barbahari)

 

Diambil dari: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=379463

 

(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=520)

-Prinsip-

24 May 2011 at 00:03 | Posted in Al-Ilmu | Leave a comment

bismillah.

berikut saya hadirkan tulisan dari sebuah status dan komen-komen di FB mengenai prinsip salah satu keberadaan perpolitikan yang katanya islam yang kemudian saling ditanggepi oleh ikhwah. Baarakallahufiikum..

Mulai:

Statusnya: Tiga tahun “dakwah” ujung-ujungnya jadi kader politik. Akidah tidak tahu, manhaj gak karuan, masya Allah. Maksudnya mentarbiyah apa ya? Paling mereka membantah “Lho nanti kalau kita tidak masuk politik yang memegang kepemerintahan orang kafir/munafiq”. Maka sesungguhnya mereka telah membenturkan nash dengan akal. Allahul musta’an

Ikhwah Menaggapi (IM): yup betul juga ya…gmn klo yang megang pemernthn org fajir…?subhanallah…ni subhat mantep banget…..trus klo ditanya gitu jawabannya apa…? ya sederhana… Continue Reading -Prinsip-…

Aku (memang) Rindu Indonesia Lebih Baik

3 February 2011 at 08:10 | Posted in Al-Ilmu, Ceritaku | 1 Comment
Tags: ,

Mau tau kehidupan perpolitikan di Indonesia? Porak poranda, ketidakjelasan, aneh, indefinable, semua ada di Koran atau media massa karena menurutku media massa lebih jelas beritanya ketimbang TV. Selain itu, beberapa tambahan bacaan yang berkaitan juga menambah nilai berita yang ada.

Sudah sejak tiga hari ini aku rajin membaca harian Kompas. Ini terjadi karena aku ga ada kerjaan tambahan selain kerjaan seperti biasa. Toh, ada Koran nimbrung disitu, daripada ga kebaca itung-itung juga menambah wawasan untuk kedepan dan dunia kepenulisanku.

Tiga hari telah berlalu dan aku bisa mengikuti perkembangan berita dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Mesir hingg Indonesia. Mulai dari opini hingga politik, serba-serbi hingga klasika. Semuanya ku lahap, mungkin karena efek jarang baca Koran juga.

Sungguh, berita dan rekan-rekannya sangat membuatku resah gelisah. Terutama politik di Indonesia, kebijakan-kebijakan, logika dan moral pemimpin, hingga keadaan tanah air yang begitu memprihatinkan. Hmmm….kecewa telah kudapatkan, sedih telah kurasakan saat membaca dan mendengar kabar Indonesia. Bagaimana bisa seperti ini?

Kebijakan impor beras saat panen raya di Indonesia, kasus penangkapan 19 anggota DPR, pemimpin KPK yang ditolak rapat DPR, SBY yang berucap gajinya belum naik dan sebagainya adalah gambaran Koran di Indonesia.

Ingin sekali rasanya berteriak dan memberi nasehat. Tapi saat aku ingat perkataan Rasululla Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam “Meskipun kamu diperintah oleh budak Habsyi yang (jelek) terpotong hidungnya tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpinmu dengan Kitab Allah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1062). Ada lagi Dari Ady bin Hatim ia berkata, kami berkata : “Ya Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang yang bertaqwa tapi (bagaimana) terhadap orang yang berbuat begini dan begitu –ia menyebut berbagai kejelekan–.” Beliau berkata : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1069). Terus, Dari Abi Sa’id Al Khudri ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Akan ada nanti para pemimpin yang kulit menjadi lunak terhadap mereka sedangkan hati tidak tenteram kemudian akan ada pula para pemimpin yang hati manusia gemetar karena mereka dan bulu kuduk berdiri karena (takut) kepada mereka.” Lalu ada yang bertanya : “Ya Rasulullah apakah tidak diperangi saja mereka?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : “Tidak, selama mereka menegakkan shalat.” (Ibid nomor 1077). Dari Abu Dzar radliyallahu ‘anhu ia berkata :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangiku ketika saya di mesjid lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan bersabda : “Apakah kamu sedang tidur di tempat ini?” Saya menjawab : “Wahai Rasulullah, mataku mengalahkanku.” Beliau bersabda : “Bagaimana jika kamu diusir dari sini?” Maka saya menjawab : “Sungguh saya akan memilih tanah Syam yang suci dan diberkahi.” Beliau bertanya lagi : “Bagaimana jika kamu diusir dari Syam?” Saya berkata : “Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya perangi dia, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : “Maukah aku tunjukkan jalan yang lebih baik dari tindakan itu dan lebih dekat kepada petunjuk –beliau ulangi dua kali–? Yaitu kamu dengar dan taati, kamu akan digiring kemanapun mereka menggiringmu.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1074). Ilmu lebih lengkap http://groups.yahoo.com/group/Salafi-Indonesia/message/1309

 

Maka dari situ pula, SABAR lah, contohlah dan kerjakanlah perintah Allah dan Rasul mu, taat dan patuh pada Pemimpin. Doakanlah mereka.

Dalam perenunganku, apa jadinya semua rakyat berdoa untuk kebaikan Pemimpin dan Pemerintahannya. Tentunya aku yakin, Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita, insyaAllah negara yang aman dan damai lagi sentausa. Tak perlulah ada demo anarki dan sejenisnya jika semua orang hanya berdoa untuk kebaikan pemimpin, tentunya keinginan doa itupun timbul karena rasa keprihatinan yang berpijak pada akhlak-akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alahissalam.

Mari kita doakan untuk para Pemimpin kita agar mereka diberi hidayah karena dengan itu amanah yang mereka emban, pekerjaan yang mereka lakukan semata-mata untuk ridha Allah dan kebaikan bersama.

 

*duduk dalam rumah sakit

 

Next Page »


Entries and comments feeds.