Waste Refinery Center

17 October 2014 at 13:43 | Posted in Ceritaku | Leave a comment
Tags: , , ,

Selama masa pendidikan sarjana saya banyak mengasah softskill saya di dunia organisasi kampus. Tepatnya telah tiga organisasi kampus yang saya pernah ikuti. Salahsatunya ialah Waste Refinery Center atau biasa disingkat WRC.

Ketiga organisasi tersebut memberi dampak berarti pada cara berpikir dan berperilaku saya. WRC dalam hal ini mengajarkan pada saya pentingnya implementasi teknik yang telah kita pelajari di bangku kuliah ke masyarakat. Tentang bagaimana caranya mengerti budaya masyarakat dan cara bergumul membaur didalamnya. Organisasi ini juga memberikan saya keluarga baru setelah saya keluar dari salahsatu lainnya dari ketiga organisasi tersebut, pun hingga sampai saat sekarang.

Dari sini saya juga mengerti pentingnya arti pandai menjaring jejaring hubungan. Gampangnya humas. Dengan berjalannya humas, organisasi akan mendapat banyak keuntungan yang bahkan tak dapat ditebak. Dengan menjaga hubungan baik dengan mitra, kita akan semakin di percaya untuk menghandle sesuatu dan keuntungan lainnya.

Lewat WRC pula saya mulai dapat memahami mengenai arti menjaga silaturahim yang dapat memanjangkan umur dan menambah rejeki. Logika saya seperti ini. Jika kita bertemu seseorang baik itu membuka atau menjaga tali silaturahim, maka sedikit atau banyak kita akan mendapat informasi yang berguna baik itu secara langsung maupun tak langsung yang mana jika kita memperoleh informasi tersebut secara induvidualis itu akan membutuhkan waktu lebih lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Betul tidak?

Mungkin pembaca mulai jenuh sebagian lagi menebak sebenernya apa sih WRC itu? Dilihat dari katanya Waste yang berarti sampah dan Refinery yang berarti pemisahan seperti dalam pemisahan minyak bumi menunjukkan organisasi ini bergerak di bidang pengelolaan sampah. Organisasi ini berafiliasi di Jurusan Teknik Kimia UGM.

Karena WRC telah “memiliki nama” di luar maka banyak dibentuk sub sub pendukung dan kebetulan saya masuk dalam sub yang disebut Mini Sobacken-WRC.

Mini Sobacken sendiri merupakan sebuah proyek untuk memantapkan pengelolaan sampah terintegrasi di kampus teknik agar sampah tersebut bukan hanya menjadi sampah belaka namun menjadi sumber daya. Ya, sampah = sumber daya, lebih tepatnya seperti itu.

Sejak digulirkannya proyek ini, saya telah ikut didalamnya untuk memulai dengan mengkalkulasi berapa jumlah sampah yang dihasilkan tiap hari, minggu dan bulannya di beberapa jurusan di kampus teknik. Yang kemudian data tersebut menjadi basis untuk merencanakan teknik manajemen kedepannya. Tidak khanya itu, untuk menggembor gemborkan ke atas, ke dekanat dsb kita juga telah melakukan diskusi dan lomba lomba untuk mahasiswa-mahasiswa. Puncaknya adalah cleaning days se teknik kala itu.

Hingga akhir batas waktunya, dekanat juga belum memberikan langkah-langkah kongkretnya mengenai implementasi manajemen sampah ini. Alhasil, Kepala WRC sendiri menghendaki untuk memberhentikan proyek ini karena yang didukung tak mau mendukung.

Namun demikian, leader tim proyek ini terus percaya kalo system ini pasti bisa dijalankan dengan iya atau tanpa bantuan dari dekanat. Hingga sampai saat ini, mini sobacken tetap berjalan untuk mengajarkan bahwa sampah adalah sumberdaya.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: