Perjalanan ke Lawu

9 September 2014 at 15:26 | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , ,

Apa yang ada di benakku ketika disebutkan gunung lawu adalah pertama gunung diwilayah yang masih bisa kujangkau tapi belum bisa ku daki. Kedua, suhu rerata terdingin diantara sumbing sindoro merapi atau merbabu dan itu membuatku semakin ingin menikmatinya. Ketiga, gunung tidur dengan sejuta keindahannya. Seperti yang kulihat saat mentari pagi menyembul, dengan gagahnya gunung itu menghalangi cahaya matahari menunjukkan keberadaannya.
Dan Alhamdulillah, minggu kemaren tepatnya hari rabu hingga kamis lawu telah ku daki. Dari puncak kulihat seluruh daratan disekitarnya, kehidupan masyarakat dan budaya di lembahnya (yang mulai terkikis zaman), juga awan kapas putih yang melingkupi menjaganya dan menyuburkannya.

Perjalanan mendaki kali itu adalah perjalanan batin, perjalanan kontempelasi, dedikasi, dan resiko. Bahwa hidup ini adalah sementara. Tak ada yang lebih kentara selain bersyukur atas segala nikmat Allah yang di berikanNya dan terus beribadah padaNya. Tak luput mengenai siapa kelak yang menjadi pendamping kita. Pada indahnya lika liku kehidupan.
Tentang bagaimana menghormati dan bergaul dengan kawan dan alam. Tentang bagaimana cara cinta kita membantu Indonesia.

Setapak demi setapak kaki melangkah menanjak, dan terus melangkah. Hanya ada satu jalan berbatu yang mengantarmu pada puncak. Lawu, sebuah keindahan.

Dan, kala matahari tenggelam, setiap ufuknya gambarkan keindahan tak terkira. Kilauan sayatan mega semburat bunga merekah. Gemulan awan awan berpadu dengan langit saga, adapula yang bercerai berai. Aku disitu menatap senyum penuh lega bahwa aku bisa menikmatinya.

lawu (2)

Tapi, siapa sangka lawu dalam tidurnya dipenuhi orang orang yang tak beradab,orang orang yang tak (mau) mengerti apa itu mengesakan Allah, mereka meminta selain pada Allah, pada jin, tempat, kuburan, tongkat, dupa, patung! Yang tak mungkin mereka dapat memberikannya secuil kebutuhannya. Karena tempat semua meminta hanya pada Allah. Tapi dalam benakku hanya bisa ku berkata, semoga Engkau ya Allah ampuni dosa-dosa dan berikan mereka petunjuk. Dan kubuang kutendang sesajen sesajen itu.

Setelah puas kunikmati indahnya ciptaanNya, masyaALlah. Aku bergegas turun k epos terakhir sebelum puncak, tepatnya pos Mbok Yem (cmmiiaw) dan menikmati hidangan disana.

Dan kau tahu, kala itu, teman saya yang mendapat bagian membawa kompor tidak membawanya. Dan itu menjadi salahsatu pendakian yang aaaahhhhhsudahlah…….

Akhirnya kita hanya menikmati masakan dan minuman dari warung yang disediakan. Kau tahu, kita merencanakan akan membuat masakan-masakan yang special juga minuman dalam pendakian itu, hanya untuk menikmati bersama Lawu. Tapi semua sudah terjadi. Meski ingin menjotosi tapi diri ini terkendali. 

Satu pesan dalam cerita ini, terutama, yakni recheck kembali semua perbekalan yang akan kamu bawa, kemanapun kamu akan pergi.

 

-Nsh-

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: