Surabaya, Kota Perjuangan dan Kenangan

28 January 2014 at 12:09 | Posted in Ceritaku | Leave a comment
Tags: , , ,

Saat kulihat teman-teman berderet satu satu

Tak terasa akhirnya kuhadapi masa-masa ini

Masa yang dinanti saat peluh dan konsentrasi terakumulasi

Saat harapan dan cita-cita menjdi sebuah pendorong teramat kuat

Hingga penantian pada akhir yang terbaiklah terus kita berdoa

Luluh semua perjuangan dan kini tinggal kenangan, Surabaya

 

Bagaimana mungkin bisa menghilangkan memori masa lampau, tak akan bisa, baik pahit maupun manis, sel otak kita terfungsikan untuk itu hanya takdir Allah yang bisa mengubahnya. Begitu juga dengan kota Surabaya. Bagi saya ia seperti kenangan yang tanpa diundang tetiba datang seperti meteor jatuh. Surabaya menunjukkan bagiamana dulu saya ditempa, dibesarkan, dipertemukan dengan orang-orang yang mengisi relung hidup.

Kala itu adalah persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Institut Teknologi Sepuluh Nopember adalah tujuan hati. Tak ada yang lebih kuidamkan kala itu daripada bisa masuk dan kuliah di perguruan tinggi tentang teknik terbesar kedua (bagi saya) di Indonesia setelah IT Bandung. Hingga pengumuman datang rezekiku memang bukan di Surabaya, tapi di Yogyakarta.

Pernah sekali kakak sepupu berucap ‘orang sepertimu tak pantas hidup di surabaya’. Jauh masih ku pikirkan maksud dari ucapannya, pun hingga sekarang. Dan sekaranga, dengan bahagia aku hidup dan besar di Yogyakarta. Kota kecilku dahulu.

Surabaya, aku banyak belajar tentang komitmen, tujuan hidup, dan istiqomah. Tentang bagaimana mempersiapkan menjadi manusia, beribadah, mengasihi dan memberi. Belajar, belajar, dan terus belajar. Saya bersyukur Allah telah memberikan satu bagian keesempatan dalam frame kehidupanku mengenal Surabaya dan teman-teman  didalmnya.

Surabaya saya bertemu dengan kehidupan yang memperjuangkan idealismenya, berpatri pada tata budayanya. Bonek yang kepanjangan dari Bondo Nekat, adalah salahsatunya. Ia tercermin dari pribadi seorang yang kutemui, bahkan tidur sekamar dengannya, Arif. Cerdas, logis, idealis, dan bonek, he is the man. Hasilnya, pendidikan dokter UNAIR saat ini sedang ia tempuh.

Lain lagi cerita dengan Muafaq. Pria berkulit putih, santun, tenang, ganteng banget lah pokoknya. Saya belajar dengannya mengerti tentang ikhlas, qona’ah dan sabar. Alhamdulillah, kini ia telah lulus sebagai enjiner perkapalan. Banyaak juga  cerita tentang kawan kawan lain yan biarlah ia terendap dalam kenangan tak terlukis soal kehidupan dan sifat. Seperti Nuha, Si kembar, Lia, mas Taufik, Aji, Mirza, Ayu, Yumna. Yang pasti, mereka masih menjadi misteri kehidupan karena  kepingan-kepingan ini akan menjadi utuh nantinya, utuh.

Olehnya, meskipun saya udah lebih 4 tahun di jogja, saya pasti sempatkan di liburan untuk pergi ke Surabaya.  (Nsh)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: