Tentang Prasangka

26 September 2013 at 01:55 | Posted in Ceritaku | Leave a comment

Bismillah

Sudah hampir 3 bulan terakhir saya tidak update ni blog. Kangen juga. Terlebih ada yang PM dari pembaca setia yang lama ko ga update.๐Ÿ˜€ (padahal mah pembacanya ya dia sendiri, liat aja ratingnya ga pernah menunjukkan kestabilan teratas, rerata bawah, klopun naik menunjukkan konspirasi rating ditengah kontroversi kesetiakawanan -,-)

Nah (mulai), terkadang terpikir kalo facebook itu banyak banget mudhorotnya, tapi terkadang pula balik lagi pengen eksis, ya itulah manusia. Pdahal udah tau jelek, mangkanya Rasul bilang manusia terkuat yang bisa drive himself.

Lain waktu, saya pernah berbicara dengan teman saya. Saat saya berbicara tentang yang menurutnya berbeda, dia langsung menyanggah dan bilang bahwa hal tersebut berarti logikanya saya telah menyalahkan tentang suatu hal. Memang implikasinya seperti itu. Tapi saya tidak bermaksud seperti itu,

Lalu, apa hubungannya pesbuk dengan obrolan dengan teman saya. Hubungannya adalah prasangka. Update sttus bikin kita berprasangka kan? obrolan teman saya tadi bisa juga sebenernya diprasangkakan baik kan? Ya, kali ini kita akan ngobrol soal berprasangka! Ya, prasangka. Soal prasangka itu seperti apa sih? Boleh ga berprasangka? Sebaik-baik ilmu tu ilmu dari emang quran dan hadist dengan pemahaman para salaf. So, selamat membaca.Ini saya kopas dari situs http://www.salaf.web.id/581/jauhi-buruk-sangka-al-ustadzah-ummu-ishaq-al-atsariyyah.htm . Baarakallahufiikum.

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal su`u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Al-Qur`anil Karim, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุฅูุซู’ู…ูŒ

โ€œWahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa. โ€ (Al-Hujurat: 12)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala memerintahkan untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah.

Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan dinyatakan oleh beliau sebagai pembicaraan yang paling dusta. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/191) Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, โ€œAllah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu โ€˜anhu beliau berkata, โ€˜Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebutโ€™. โ€ (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang berbunyi:
ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽูƒู’ุฐูŽุจู ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู’ุซูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญูŽุณู‘ูŽุณููˆู’ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุฌูŽุณู‘ูŽุณููˆู’ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽู†ูŽุงููŽุณููˆู’ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญูŽุงุณูŽุฏููˆู’ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุจูŽุงุบูŽุถููˆู’ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุฏูŽุงุจูŽุฑููˆู’ุงุŒ ูˆูŽูƒููˆู’ู†ููˆู’ุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ู‹ุง ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽูƒูู…ู’ุŒ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽุฎููˆู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุธู’ู„ูู…ูู‡ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฎู’ุฐูู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุญู’ู‚ูุฑูู‡ูุŒ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู‡ูŽู‡ูู†ูŽุงุŒ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู‡ู‡ูู†ูŽุง -ูŠูุดููŠู’ุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุตูŽุฏู’ุฑูู‡ู- ุจูุญูŽุณู’ุจู ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฑูู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ู‚ูุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุŒ ูƒูู„ู‘ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุฏูŽู…ูู‡ู ูˆูŽุนูุฑู’ุถูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌู’ุณูŽุงู…ููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุตููˆูŽุฑููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูู„ููˆู’ุจููƒูู…ู’ ูˆูŽ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ููƒูู…ู’

โ€œHati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini. โ€ Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya.

โ€œCukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian. โ€ (HR. ูAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482).

Zhan yang disebutkan dalam hadits di atas dan juga di dalam ayat, kata ulama kita, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum khamr padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhan yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan/keshalihan. Beda halnya dengan seseorang yang terkenal di kalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan seperti keluar masuk ke tempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya. (Al-Jamiโ€™ li Ahkamil Qur`an 16/217, Ruhul Maโ€™ani 13/219).

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek. (Al Jamiโ€™ li Ahkamil Qur`an, 16/218).

Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata, โ€œDemi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat.โ€ (Al-Adabus Syarโ€™iyyah, 1/70)
Dari hadits:

ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽูƒู’ุฐูŽุจู ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู’ุซู

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadits ini, โ€œZhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadits bahwa Allah Subhanahu wa Taโ€™ala memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja[1]1. โ€ (Al Minhaj, 16/335).

Sufyan rahimahullahu berkata, โ€œZhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam/menyimpannya dan tidak membicarakannya maka ia tidak berdosaโ€. Dimungkinkan pula, kata Al-Qadhi โ€˜Iyadh rahimahullahu, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Muโ€™lim bi Fawa`id Muslim, 8/28).

Kepada seorang muslim yang secara zahir baik agamanya serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang โ€œmiringโ€ tentangnya maka tidak ada yang sepantasnya kita lakukan kecuali tetap berbaik sangka kepadanya. Karena itu, tatkala terjadi peristiwa Ifk di masa Nubuwwah, di mana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta bahwa istri Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang mulia, shalihah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) Aisyah radhiyallahu โ€˜anha berzina, walโ€™iyadzubillah, dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Muโ€™aththal radhiyallahu โ€˜anhu, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap berprasangka baik dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut. Dalam Tanzil-Nya, Dia Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ุฅูุฐู’ ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ููˆู‡ู ุธูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุจูุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุฅููู’ูƒูŒ ู…ูุจููŠู†ูŒ

โ€œMengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata, โ€˜Ini adalah sebuah berita bohong yang nyataโ€™. โ€ (An-Nur: 12).

Dalam Al-Qur`anul Karim, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala mencela orang-orang Badui yang takut berperang ketika mereka diajak untuk keluar bersama pasukan mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Orang-orang Badui ini dihinggapi dengan zhan yang jelek.

ุณูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ู…ูุฎูŽู„ู‘ูŽูููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุนู’ุฑูŽุงุจู ุดูŽุบูŽู„ูŽุชู’ู†ูŽุง ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููˆู†ูŽุง ููŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุจูุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุชูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ู’ ููŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู…ู’ู„ููƒู ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุจููƒูู…ู’ ุถูŽุฑู‘ู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุจููƒูู…ู’ ู†ูŽูู’ุนู‹ุง ุจูŽู„ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑู‹ุง. ุจูŽู„ู’ ุธูŽู†ูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽู„ูุจูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ููŠู‡ูู…ู’ ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ูˆูŽุฒููŠู‘ูู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุธูŽู†ูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุธูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽูˆู’ุกู ูˆูŽูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุจููˆุฑู‹ุง

โ€œOrang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, โ€˜Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami. โ€™ Mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Katakanlah, โ€œMaka siapakah gerangan yang dapat menghalangi-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kalian atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Bahkan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian persangkaan tersebut. Dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk, kalian pun menjadi kaum yang binasa. โ€ (Al-Fath:11-12)
Wallahu aโ€™lam bish-shawab.


[1] Lafadz hadits yang dimaksud adalah:
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุฌูŽุงูˆูŽุฒูŽ ู„ูุฅูู…ู‘ูŽุชููŠ ู…ูŽุง ุญูŽุฏูŽุซูŽุชู’ ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู’ููุณูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽู€ู…ู’ ูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ููˆู’ุง ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู’ุง ุจูู‡ู
โ€œSesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya. โ€ (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: