(Un)definable

11 September 2012 at 17:58 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjelang pagi, tersingkap cerita ini. Padanya seseorang yang ada disana. Kala itu, sangkar burung telah terkoyak dan burung bebas melanglang buana. Dilewatinya jutaan pasang mata dan keindahan alam dan memalingkannya. Diri ini berjalan menyusuri pagi dan malam, mendaki bukit turun lembah terjal melompat awan dan tingi tinggi sekalii.

Tahap selanjutnya, kebebasannya meruak keluar, melontarkan ia dalam kebisingan dan rupa rupa aral. Terkoyak jatuh dan terhempas. Menghilang dan lalu muncul kembali. Tak dinyana ia sungguh sekuat itu. Sewaktu aku masih kecil, orangtua saya selalu menasehati untuk gigih berjuang tak kenal lelah.

Hingga pada suatu kali. Sebuah desingan dahsyat telah menulikannya, membutakannya, dan melukainya. Luka dalam tercabik cakar Werkudara. Ia terdiam membisu, takluk pada keadaan dan sinismenya merendah. Keingintahuannya tak jelas arah tujuan, dan yakinilah, ia pasti tersesat. Bilaman ia masih hidup, sungguh itu karuniaNya.

Serangannya bertubi, dalam, menukik, menyilang, tembus berbekas lubang hitam yang terus menerus membesar saat ia bersatu bersama angin, lagu sunyi, nyanyian jahanam, dan malam. Kejadiannya tak singkat, seolah olah tau dirinya akan terserang dan bisa terus diserang. Digempur habis habisanlah ia.

Lain sisi, ia terbuai dalam rongrongan. Menikmatinya, teruss ia menikmatinya. Suatu malam ia terbangun dan bersimpuh. Jadi, dimana ia berada? Dalam kecantikannya? Dalam paras lembutnya? Atau dalam keanggunan kediaman sikap dan kecerdasan otaknya? Why it always like that. Sinar laser dan energy fotolistriknya telah melemparkannya dalam kesejukan mematikan.

Aku masih saja membayangkan bahwa ia pasti terkasih. Terbebani dalam kesunyian. Melesak jauh ke angkasa dan balik kembali dengan tangan hampa. Tidaklah ia menyesal dan justru bangga. Bangga sekali. Walaupun hanya dalam hati saja. Represif.

Dunia masih bulat, panas bumi masih tersimpan dalam perut dan mahal harga. Layaknya sebuah cinta. Jika ia tidak butuh pengorbanan, maka ia hanyalah secuil panas yang hanya bisa membuatnya panas sementara. Tak mampu mencerdaskan bangsa, menerangi alam, dan mentasbihkan amal jariyah yang terus terungkit naik naik.

Ia tertawa dalam kesedihan, melukai dan disayati. Tapi penderitaan ia maknai dengan kasih sayang, ajang pembuktian. Dan sebagai penutup tulisan ini. Tak membutuhkan rekayasa dan manipulasi suatu kejadian akan tiba pada waktunya, kapan dan dimana tempatnya. Sempurna, tidak butuh kata dan ucapan. Rasa dan karsa.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: