Sakit dan Uang (student)

9 November 2011 at 01:21 | Posted in Ceritaku | 4 Comments

Bismillah

Sebagai student yang masih terus berusaha untuk dapet penghasilan yang bisa menghidupi seluruhnya kebutuhan diri sendiri, uang merupakan salahsatu komponen penting. Tanpa uang kita tidak bisa membeli apa-apa (yaa terlepas dari bagaimana konspirasi timbulnya uang itu). Thus, kita sebisa mungkin mengeluarkan uang sesuai dengan kadar kebutuhan, singkatnya hemat!

Apalagi kalo dikaitin sama kehidupan student. Ada yang makan hanya dua kali sehari. Puasa Daud, subhanallah. Tapi satu hal yang ingin saya garis bawahi disini bukan ibadahnya (karena syarat ibadah hanya ikhlas pada Allah dan sesuai perintah Rasul ‘alaihissalatuwasallam) tapi lebih kepada kesehatan.

Ada beberapa teman dari saya lebih menekankan untuk tetap rekoso agar bisa menghemat uangnya, padahal kondisinya sudah lemas pucat dan (pasti) akan sakit. Dan benar, ia sakit, dan tau ga? Uang yang dikeluarkannya bisa lebih mahal dari biaya makan seharinya (kalo kita bandingkan uang pengobatannya).

Nah kalo udah kyak gtu bisa dikatakan lebih baik keluar uang lebih banyak untuk jaga kesehatan. Kenapa? Karena dengan sehat kita bisa terus ibadah, bisa terus belajar bekerja dan melakukan aktivitas bermanfaat lain. Terpenting lagi, waktu kita dapat kt gunakan lebih baik.

Uraian diatas sering ditekankan oleh Ibu untuk saya dan saudara-saudara saya. Semoga bermanfaat. ^^

Perlu digarisbawahi juga, sakit juga merupakan salahsatu penghapus dosa kita, jadi tetep sabar ya walaupun sakit menyerang.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi shallallahu’alaihisholatuwasallam, Beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu: a. mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah). b. lupa (akan janji Allah Ta’ala), maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah l.

Dari penjelasan diatas, tinggal ada dua pilihan nih, beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan mendapatkan murka Allah Ta’ala karena dia marah dan tidak sabar atas taqdir tersebut.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. nashril kayaknya harus ganti nama jadi nashrili …

    • kok bisa tu hlo??

      • penerus GC-1 biasanya kan berakhiran “i”😀

      • aiihh…. bisa adja masnya

        qe qe qe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: