Bersama Orang Tua

25 August 2011 at 03:40 | Posted in Ceritaku | 1 Comment

Mengapa kita harus menghormati orang tua? Simplenya, karena mereka telah berumur lebih tua dari kita. Lebih jauh, dari umur yang lebih tua itu mereka telah mendapat pengalaman dan pelajaran hidup lebih lama dari kita, disinilah perbedaannya. Orang tua (bukan hanya orang tua kandung) memberikan pelajaran dan pengalaman mereka untuk kita agar kita bisa lebih mawas dan mampu menjadi batu loncatan bagi kita untuk membuka hal baru lebih luas nan manfaat. Orangtua, juga memberikan ruang tersendiri bagi kita untuk melakukan improviasi kehidupan. Pun tak dapat kita pungkiri bahwa terkadang pengalaman mengalahkan kekuatan dan optimisme, sejatinya ini membuat kita lebih sabar dan meunduk untuk terus belajar menggali hikmah.

Apa yang ku utarakan diatas sebgai pengantar menuju pengalaman berkesan minggu lalu yang kua alami. Tepatnya hari senin minggu ke 2 bulan Ramadhan, aku berkesempatan bersilaturahmi dengan Drs. Sudiartono, MS, vice director pusat studi energi UGM.

Siang itu, kami dipertemukan oleh mas Irawan. Aku dengan teman-temanku sengaja dipertemukan olehnya karena sebenarnya mas Irawan ingin membagikan ‘pengalaman dan ilmu hidup’ dari pak Sudiartono yang telah ia peroleh sebelumnya. Karena betapapun ia menceritakan kembali apa yang ia dapatkan pasti berbeda jika narasumber yang menceritakan langsung.

Awal pembicaraan kami dengan pak Sudiartono adalah mengenai kegiatan seorang mahasiswa. Mahasiswa menjadi penerus bangsa. Dua puluh tahun lagi, kitalah yang memegang kendali Indonesia.

Lebih lanjut ia menceritakan tentang riset dan kegiatan yang akan kami lakukan bersama di pusat studi energi. Tak lupa, ia pun menceritakan riset-riset yang telah ia lakukan dan itu menginspirasi kami. Salah satunya adalah mengenai kegiatan penelitiannya di daerah tempat dimana ia tinggal. Ceritanya, tanah yang ia beli merupakan tanah kapur. Sulit untuk mendapatkan air tanah guna supplai air tanaman. Masyarakat sekitar pun sangsi dengan apa yang ia lakukan, hingga akhirnya ia membuat sebuah cekungan di tanah berkapur itu yang diisi dengan tanah untuk kemudian ditanami tumbuhan. Dan hasilnya, kini masyarakat banyak meniru contohnya. Hebat, gumamku mendengarkan. Kala itu, terngiang dikepalaku, bahwa itulah pekerjaan kita Hai Mahasiswa!

Panjang ia ceritakan penelitian-penelitian yang telah ia capai dan on progress. Hingga pada titik ia bercerita mengenai prinsip yang ia pegang khususnya dalam melakukan riset. Adalah 5M formula yang ia berikan. Apa itu? Memahami, Meniru, memodifikasi, mencipta dan memproduksi.

Terlihat disitu mencipta adalah ada setelah meniru. Lebih jauh Pak Sudiartono bercerita kalo inovasi itu hadir setelah ia meniru dan memodifikasi. “tak mudah untuk mencipta” terangnya. Kita, sebagai mahasiswa yang masih terus belajar belum usahlah untuk selalu berpikir tentang inovasi dan mencipta. Cukup meniru dan memodifikasi itu sudah menjadi sebuah kemajuan. Hal yang terpenting disini jika dikaitkan dengan riset dan teknologi adalah riset dan teknologi yang kita buat itu mampu berguna. Applied research and technology.

“Nah, untuk kalian bisa meniru dan memodifikasi, kalian harus paham apa dan kenapa” ia menambahkan. Pelajari dan pahami maksud, tata cara, implementasi, dan tujuannya. Nah, disini pentingnya memahami. Terlebih lagi ilmu fisika (ini karena sebagian besar yang hadir adalah teman saya sejurusan). Fisika itu ilmu dasar, oleh karena itu, penerapan ilmu fisika pada teknologi sangat vital. “Jika penerapan ilmu fisika saja udah jelek, teknologi aplikatif juga ga bisa optimal” ujarnya.

Lebih aneh lagi (kemudian saya berpikir ada benarnya juga) kalo pinter fisika di hitam diatas putih. Kita lihat Indonesia olimpiade tingkat internasional sllu juara bgitu juga dengan matematika. Tapi aplikasi dari ilmu dasar fisika ini lah yang masih kurang. Wejangan dari beliau “kalian mahasiswa yang menuntut ilmu dibidang ini, kaliainlah penerus perjuangan ini, teknologi aplikatif harus terus ada”. Semangat membara dalam hatiku.

“kita lihat, Indonesia, apa aja dibeli. Cina, apa aj dibuat, mesti itu meniru” ungkapnya. Dan beliau cerita mengenai perbedaan Cina dan Indonesia dari hasil pengalaman beliau saat studi dengan orang Cina. Orang Cina dan Indonesia dapat uang 15rbu, 10rbu untuk tabungan dan 5 rbu makan. Indonesia, 10rbu untuk makan dan 5 rbu tabungan. Aku langsung teringat tentang sunnah Nabi, makanlah sebelum kenyang, juga nasehat dari jumhur ulama untuk tidak terlalu banyak makan karena akan menutup daya pikir. Itulah sebabnya kenapa andrea hirata menulis figur sang cerdas, Arai tidak pernah makan jika malam hari. Hmm……

Itu semua semakin menyadarkanku untuk meningkatkan kecepatan belajarku, mengaplikasikan ilmuka, dan mencerdaskan kehidupan.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ijin meninggalkan jejak saya disini. http://irfanhandi.wordpress.com/
    Salam persahabatan selalu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: