-Prinsip-

24 May 2011 at 00:03 | Posted in Al-Ilmu | Leave a comment

bismillah.

berikut saya hadirkan tulisan dari sebuah status dan komen-komen di FB mengenai prinsip salah satu keberadaan perpolitikan yang katanya islam yang kemudian saling ditanggepi oleh ikhwah. Baarakallahufiikum..

Mulai:

Statusnya: Tiga tahun “dakwah” ujung-ujungnya jadi kader politik. Akidah tidak tahu, manhaj gak karuan, masya Allah. Maksudnya mentarbiyah apa ya? Paling mereka membantah “Lho nanti kalau kita tidak masuk politik yang memegang kepemerintahan orang kafir/munafiq”. Maka sesungguhnya mereka telah membenturkan nash dengan akal. Allahul musta’an

Ikhwah Menaggapi (IM): yup betul juga ya…gmn klo yang megang pemernthn org fajir…?subhanallah…ni subhat mantep banget…..trus klo ditanya gitu jawabannya apa…? ya sederhana…meminta jabatan tuh hukumnya dilarang dalam islam,padahl untuk dpt jd pemmpin kita harus berkampanye/meminta2 suara kerakyat ben dipiiih…politik indonesia merupakn politik ber azas demokrasi alias kekufuran,shingga bergelut didalamnya ter hitung dalam suatu kemaksiatan…begitu sudah menjabatpun biasanya meski berlatar belakang aktifis muslim, hampir semuanya mengorbankan nilai2 islam drm perjlnnnya selama menjabat akibat prisnsip demokrasi

Tambahan dari IM: ?(asa toleransi, kesamaan derajat, pembenaran sellurh agama,dst)….adapun alasnnya supaya yang memerintah bukan org fajir, agama tidak menjadikan ini indikasi bolehnya melakukan peralihan kekuasaan, kudeta ataupun yang sejenisnya, bahkan yang dilakukan para salaf dari kalangan para sahabat dst menghadapi pemerintah yg dzolim adalah sabar, tetap taat, mendoakan kebaikan, measehati secara sembunyi2 tanpa terlalu melibatkan diri kepemerinthn……klo saja pemerintah yang djolim tuh ga diterima dalam islam, tentu para sahabt dst dr kaum salaf ga berdiam diri bahkan melakukan kudeta dg serta merta….wallahu`alam….mohon nasihatnya bila ada yang salah….

Ikhwah yang membuat status: Persis seperti bantahan Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafidzahullah di Madzakirun Nazhar.

Bahwasanya Allah memberikan kepada kita akal akal tersebut harus tunduk ketika dibenturkan dengan nash (dalil). Akal dan pertimbangan manusia itu sangat pendek dan lemah. Tapi yang namanya manusia, mereka selalu sombong dan angkuh -kecuali yang dirahmati Allah-. Allah berfirman,

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada diri mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokan itu.” (Ghafir: 83)

Maka sikap yang benar ketika mendapati syubhat seperti ini adalah hendaknya kita ingat peringatan Allah. Allah berfirman

“Dan Allah telah berjanji kepada ORANG-ORANG YANG BERIMAN diantara kamu dan MENGERJAKAN AMAL-AMAL SHALIH bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjanjikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa” (an Nur: 55)

Maka apakah akan kita benturkan firman Allah ini dengan akal dan pertimbangan: Nanti kalau kita tidak masuk parlemen pemimpinnya orang kafir, nanti kalau kita tidak mendidik politik kader dakwah tidak bisa memimpin dsb. Padahal yang namanya politik sekarang ini adalah politik sistem kuffar. Bagaimana mungkin menegakan syariat dengan menempuh jalan orang kuffar? Prinsip ini akan sama dengan ungkapan munafiqin (Sesungguhnya menghalalkan yang haram itu dibenarkan untuk menuju perbaikan). Kalau sudah seperti ini bukan orang yang beriman namanya, mereka juga tidak mengamalkan amal kebajikan.

Maka cukuplah firman Allah ini menjadi bantahan. Bahwa yang mereka lakukan (menceburkan diri untuk berpolitik) bukanlah suatu amal kebajikan. Dan pasti sebaliknya Allah tidak akan pernah memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang mengingkari kalam Allah diatas. Sukur-sukur mau ruju’ kalau ndak mau ya sudah. Tanggung jawab ditanggung masing-masing. Ya kan mas? Wallahu a’lam

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: