cerita singkat (semoga bermanfaat)

19 November 2010 at 02:21 | Posted in Ceritaku, Info | Leave a comment
Tags: , ,

Bismillah
Pengungsi itu tidak hanya kehilangan harta benda tapi juga kehilangan salah satu ‘motivasi’nya. Setidaknya itulah yang didapat penulis saat menjadi tim ‘trauma healing’ bagi remaja di salah satu barak pengungsian merapi.
Sore itu, 18 November, dengan menunggang motor, kami berdua (dengan rekan saya dan berbeda motor) menuju barak pengungsi di Seturan, Sleman. Awalnya bukan rencana kami untuk memberi trauma healing disitu, sebelumnya rencana kami adalah di Gelanggang Mahasiswa, tetapi karena pengungsi saat itu sedang menikmati trauma healing dari ‘orang lain’, kata Bondan “ya sudahlah..”. Akhirnya daripada tim yang telah dibentuk ‘nganggur’ kita menuju Islamic Center, Seturan, Sleman.
Setelah sempat tersesat, akhirnya sampai ke tempat tujuan. Awalnya, tentu saja kami mengumpulkan para remaja-remaja pengungsi. Tau kan bagaimana tingkah remaja, bandel nyo…. Dengan perdebatan yang manusiawi dan close to close, akhirnya beberapa orang mau untuk diajak, walaupun tersisa 2-3 orang.
Lapangan adalah tempat acaranya. Ternyata trauma healing nya dibagi dua kelompok, untuk anak-anak dan untuk remaja. Dan sayangnya aku dapat bagian remaja, tapi akhirnya inilah yang menjadi kebersyukuranku.
Acara ini di awali dengan ice breaking untuk meningkatkan konsentrasi. setelah dirasa cukup kami duduk melingkar. Tak kenal maka tak sayang, acara perkenalan.
“ya ada senang ada enggaknya mbak” tukas salah satu peserta cewek setelah ditanya bagaimana rasanya.
“senangnya selamat dan enggaknya ya itu, rumah kita udah hancur” lanjutnya.

Ngess….hati ini langsung iba.
Sesi kedua, acara dilanjut dengan menuliskan cita-cita. Bagian ini kurasa pembaca udah tau, gimana setelah dituliskan cita-citanya, ya..perwakilan orang maju kedepan untuk membacakan hasilnya. Tapi untuk kali ini ada hal yang beda, terutama yang cowok, buandelnya minta ampun, sampe harus nunggu lebih dari 5 menit untuk meyakinkan agar berani berbicara. Mungkin ini salah satu efek psikologis dari mengungsi.

Acara telah ditutup, tapi tiba-tiba salah seorang peserta cowok yang sudah kukenal mendekatiku. Umurnya sepertinya sama denganku, dia bertanya alamatku. Dari raut mukanya terlihat melas, dan setelah kukuak, ternyata ibunya menjadi korban merapi. Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Ceritanya, saat kejadian dia sedang berusaha untuk membantu keluarga dan tetangganya. Saat itu dia di luar rumah, dan dia kira ibunya telah diungsikan bersama pengungsi lain karena saat itu posisi ibunya yang lebih dekat dari merapi daripada dia. Ibunya meninggal saat dia berusaha menjadi relawan untuk para tetangga dan sanak keluarga di desanya.

Aku hanya bisa mendoakan semoga dia diberi kesabaran. Dia bernama Putra, entah siapa nama lengkapnya. Di balik mukanya yang garang, terlihat jelas raut kegelisahannya. Raut yang selama ini aku ta mampu untuk menahan iba, jikalau bisa, aku akan berusaha sekuat mungkin membantunya. Terlebih dia anak pertama dari 4 bersaudara. Dia lah tumpuan hidup keluarganya selanjutnya.

Semoga ini menjadi ladang kita untuk bersyukur. Bayangkan jika orangtua kita (terlebih lagi umi) meninggal dan kita belum bisa berbuat banyak.
Wallahu’alam

*sekedar tulisan sederhana untuk mengungkapkan rasa syukur, semoga bermanfaat.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: