Campus Care Go Green (C2G2)

25 May 2010 at 13:33 | Posted in Ceritaku, Info | Leave a comment



Global Warming

Global warming menjadi isu paling popular yang dibicarakan orang abad ini. Bagaimana tidak, kemampuan hutan, lautan, dan penyerap gas CO2 lainnya semakin turun. Menurut Corinne Le Quere dari British Antartic Survey, Inggris, jika pada 2007 hutan dan lautan mampu menyerap 54 persen CO2, pada 2009 turun 3 persen.  ”Jika tren ini meningkat terus, sudah dipastikan manusia berada dalam jalur mencapai perubahan iklim secara drastis,” paparnya seperti dikutip dari nytimes.com. Pun menurut U.S National Research Council, dalam seabad terakhir rata-rata kenaikan suhu di permukaan bumi mencapai 0,3 oC -0,6 oC. Dalam akhir abad ke-21 rata-rata suhu bumi meningkat 1,4 oC -5,8 oC dan dalam 400 tahun terahir menunjukkan kondisi suhu paling panas. Kondisi ini tentunya berdampak luas pada segi kehidupan manusia selanjutnya.

Oleh karena itu, masyarakat dunia pun mulai bergerak, mereka menyebutnya dengan istilah Go Green,  mulai dari gerakan penghijauan dunia, penerapan 4R (Reduce, Recycle, Reuse, dan Repair), penggunaan bahan bakar terbarukan ramah lingkungan, hingga pematian lampu serentak di beberapa negara untuk menanggulangi krisis tersebut.

Penggerak Perubahan

Mahasiswa atau civitas kampus umumnya disebut sebagai agent of change karena disana—lebih banyak—tercipta inovasi, kreativitas, dan pengembangan untuk menjadi Indonesia lebih baik. Pemikiran-pemikiran serta tindakan mereka menjadi salah satu tolak ukur peradaban sebuah bangsa. Pun begitu dalam upaya mendukung masyarakat dunia dalam menanggulangi global warming. Namun, agaknya hal tersebut kurang begitu menghujam dalam setiap sendi kehidupan civitas akademika dalam upaya mendukung Go Green.

Kita lihat, masih belum sadarnya mahasiswa terhadap bahaya rokok, walaupun sudah jelas ‘mudharat’nya. Seenaknya saja mereka merokok. Tidak kalah, jumlah motor baru yang hadir di jalan meningkat drastic setiap tahunnya. PT AHM misalnya, penjualan motornya pada bulan April 2010 melonjak 98% dibanding bulan April 2009 (okezone.com,2010). Tidak kalah dengan penjualan merk Yamaha, mengalami kenaikan 60% pada tahun 2008 (papuapos.com, 2008).

Oleh karena itu, pergerakan serta kebijakan-kebijakan dari perguruan tinggi pun harus segera digerakkanuntuk mendukung go green. Tentunya kebijakan ini harus didukung seluruh lapisan civitas akademika sehingga go green pun bisa optimal. Sebagian Perguruan tinggi pun sebenarnya sudah ambil bagian dalam upaya mendukung Go Green. Antara lain penerapan area bebas rokok dan pengadaan sepeda hijau.

Kebijakan-kebijakan Go Green

Kebijakan-kebijakan yang mendukung go green antara lain:

  1. Perluasan Area bebas rokok

Masih sedikitnya area bebas rokok pada perguruan tinggi sehingga diperlukan perluasan area bebas rokok. Tentunya, diperlukan pula peraturan yang jelas dan tegas dalam menanggulangi pelanggaran yang ada.

2. Menggalakkan—kembali –Sepeda Hijau

Sepeda hijau adalah isitlah bagi sepeda yang dipersiapkan untuk dipinjamkan secara gratis bagi civitas akademika di sebuah perguruan tinggi dalam melakukan perjalanan (jarak dekat). Namun, penggunaan sepeda hijau mengalami penurunan setiap tahunnya, seperti yang terlansir pada data UGM, terjadi penurunan penggunaan sepeda hijau dari tahun 2006-2008 sekitar 10-15% pertahun. Mereka masih menganggap sepeda bukan pilihan cerdas. Oleh karenya diperlukan keijakan-kebijakan yang jelas untuk mendukung sepeda hijau, seperti manajemen pengelolaan sepeda hijau yang baik serta penempatan pada lokasi dengan demand yang besar.

3. Penghijauan

Perguruan tinggi merupakan miniature kota dalam skala dan magnitude permasalahan yang lebih kecil. Tentunya memberi contoh dalam proyek penghijauan. Penanaman pohon penyerap CO2  tertinggi adalah salah satu langkah tepat untuk mendukung Go Green. Salah satunya adalah pohon Trembesi (Samanea saman) seperti yang diteliti oleh Dr. Ir. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, satu batang pohon trembesi dewasa mampu menyerap 28 ton karbondioksida (CO2) per tahunnya.

4. Kebijakan Penggunaan Motor

Kebijakan tersebut adalah penggunaan kembali sepeda motor yang sudah diparkir hanya dapat dilakukan setelah 2 jam sekali. Selain itu, pembatasan penggunaan jalan bagi kendaraan bermotor juga dapat dilakukan. Upaya ini seharusnya juga didukung dengan penambahan sepeda hijau serta penempatan sepeda hijau yang strategis.

5.  Pengolahan Sampah Terpadu

Pengolahan sampah berpedoman pada 4R (Reduce, Recycle, Reuse, dan Repair). Seperti perkataan Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi MEng PhD, “sampah sebenarnya tidak akan menimbulkan banyak permasalahan, sebaliknya akan memberikan potensi ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat apabila mampu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik”. Penerapaan pengolahan sampah terpadu adalah solusinya. Mulai dari reduce dan reuse bagi sampah plastic, recycle bagi sampah-sampah organic untuk dijadikan pupuk atau biogas. Hingga repair bagi sampah-sampah yang bisa dijadikan barang kreatif untuk dijual.

Kebijakan-kebijakan diatas tentunya hanya menjadi isapan jempol belaka bila tidak didukung oleh kesadaran civitas akademika. Oleh karenanya diperlukan manajemen yang mengaitkan seluruh elemen sehingga upaya mendukung Campus Care Go Green dapat terwujud.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: