Saat ini…

30 November 2010 at 15:58 | Posted in Ceritaku | Leave a comment

Apa aku yang tidak tahu

Apa aku yang tidak kritis

Apa aku yang tidak mampu mengerti

Apa aku yang hanya berkoar-koar

Apa aku yang hanya bisa menuntut

Apa aku yang tidak bisa menjalankan amanah

Apa aku yang terlalu banyak egois

Apa aku yang seolah-olah, kapanpun itu terlalu tinggi untuk mengembannya

(istighfar)..(istighfar..)..(istighfar)…

 

 

Aku akan meminta maaf

Aku akan coba mengerti

Aku akan berusaha

Aku akan mengambil resiko ini

Aku akan tahu

Aku akan berkomunikasi dengan baik

Dan aku akan bangkit…

cerita singkat (semoga bermanfaat)

19 November 2010 at 02:21 | Posted in Ceritaku, Info | Leave a comment
Tags: , ,

Bismillah
Pengungsi itu tidak hanya kehilangan harta benda tapi juga kehilangan salah satu ‘motivasi’nya. Setidaknya itulah yang didapat penulis saat menjadi tim ‘trauma healing’ bagi remaja di salah satu barak pengungsian merapi.
Sore itu, 18 November, dengan menunggang motor, kami berdua (dengan rekan saya dan berbeda motor) menuju barak pengungsi di Seturan, Sleman. Awalnya bukan rencana kami untuk memberi trauma healing disitu, sebelumnya rencana kami adalah di Gelanggang Mahasiswa, tetapi karena pengungsi saat itu sedang menikmati trauma healing dari ‘orang lain’, kata Bondan “ya sudahlah..”. Akhirnya daripada tim yang telah dibentuk ‘nganggur’ kita menuju Islamic Center, Seturan, Sleman.
Setelah sempat tersesat, akhirnya sampai ke tempat tujuan. Awalnya, tentu saja kami mengumpulkan para remaja-remaja pengungsi. Tau kan bagaimana tingkah remaja, bandel nyo…. Dengan perdebatan yang manusiawi dan close to close, akhirnya beberapa orang mau untuk diajak, walaupun tersisa 2-3 orang.
Lapangan adalah tempat acaranya. Ternyata trauma healing nya dibagi dua kelompok, untuk anak-anak dan untuk remaja. Dan sayangnya aku dapat bagian remaja, tapi akhirnya inilah yang menjadi kebersyukuranku.
Acara ini di awali dengan ice breaking untuk meningkatkan konsentrasi. setelah dirasa cukup kami duduk melingkar. Tak kenal maka tak sayang, acara perkenalan.
“ya ada senang ada enggaknya mbak” tukas salah satu peserta cewek setelah ditanya bagaimana rasanya.
“senangnya selamat dan enggaknya ya itu, rumah kita udah hancur” lanjutnya.

Ngess….hati ini langsung iba.
Sesi kedua, acara dilanjut dengan menuliskan cita-cita. Bagian ini kurasa pembaca udah tau, gimana setelah dituliskan cita-citanya, ya..perwakilan orang maju kedepan untuk membacakan hasilnya. Tapi untuk kali ini ada hal yang beda, terutama yang cowok, buandelnya minta ampun, sampe harus nunggu lebih dari 5 menit untuk meyakinkan agar berani berbicara. Mungkin ini salah satu efek psikologis dari mengungsi.

Acara telah ditutup, tapi tiba-tiba salah seorang peserta cowok yang sudah kukenal mendekatiku. Umurnya sepertinya sama denganku, dia bertanya alamatku. Dari raut mukanya terlihat melas, dan setelah kukuak, ternyata ibunya menjadi korban merapi. Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Ceritanya, saat kejadian dia sedang berusaha untuk membantu keluarga dan tetangganya. Saat itu dia di luar rumah, dan dia kira ibunya telah diungsikan bersama pengungsi lain karena saat itu posisi ibunya yang lebih dekat dari merapi daripada dia. Ibunya meninggal saat dia berusaha menjadi relawan untuk para tetangga dan sanak keluarga di desanya.

Aku hanya bisa mendoakan semoga dia diberi kesabaran. Dia bernama Putra, entah siapa nama lengkapnya. Di balik mukanya yang garang, terlihat jelas raut kegelisahannya. Raut yang selama ini aku ta mampu untuk menahan iba, jikalau bisa, aku akan berusaha sekuat mungkin membantunya. Terlebih dia anak pertama dari 4 bersaudara. Dia lah tumpuan hidup keluarganya selanjutnya.

Semoga ini menjadi ladang kita untuk bersyukur. Bayangkan jika orangtua kita (terlebih lagi umi) meninggal dan kita belum bisa berbuat banyak.
Wallahu’alam

*sekedar tulisan sederhana untuk mengungkapkan rasa syukur, semoga bermanfaat.

10 November (2010)

11 November 2010 at 08:08 | Posted in Ceritaku | 1 Comment

Bismillah

10th November 2010

Today was patriot day. Long years ago, heroes fought to get freedom. This note will not write about patriot day but what happen today in patriot day to me, 10 November 2010.

Hm… it’s fun to see you again.

I was happy because this is my first time paying and buying motorcycle tax in the tax office. As we know, the good citizens are who pay tax continuously. Of course like me..hehe…. but, don’t forget to pay zakat also. It’s worship if we do lovely.

Today, barrack obama—president of america—arrive in Indonesia. Of course, this is the first he arrives here after his inaugurating as president. In Indonesia University, he gave general lecture. Everyone impressed of what he was saying. But, out there many people talk about what he wants to this country. I mean, what his willing with this arrival. This is because everyone thinks that America is bullshit. And, on facebook, my friends had opinion that he arrive here to make a good corporate with Indonesia, but another said he had a bad willing. Hm… it’s complicated. One thing that I have in mind. Indonesia has to get up. Talk less and do more. And, the important thing to make a change is 3M. Make a movement from little things, Make a movement from now, and Make a movement from our self. Everyone has their opinion, but work getting up Indonesia is a must.

Okay, that’s my English learning today. I hope you will enjoy and give me opinions about whatever, but building opinions. So thank you…

Musibah Merapi Menyingkap Kesesatan Aliran Kebatinan (Kejawen)

11 November 2010 at 01:27 | Posted in Al-Ilmu | 1 Comment

بسم الله الرحمن الرحيم

Musibah Merapi Menyingkap Kesesatan Aliran Kebatinan (Kejawen)

Sangat disayangkan, di tengah-tengah derita kaum Muslimin Yogyakarta akibat musibah Merapi, Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta semakin memperparah dengan “musibah” yang menghantam aqidah kaum muslimin. Yaitu dengan mengadakan suatu upacara kesyirikan dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala; menyembelih untuk selain Allah Ta’ala dan berbagai bentuk kesyirikan lainnya, demi menyenangkan setan-setan penghuni Merapi.

Ritual tolak bala ini tidak diragukan lagi adalah kesyirikan dan kekafiran kepada Allah Ta’ala, sebab menyembelih itu ibadah, dan ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Al-An’aam: 162-163)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain-Nya.” (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu)

Namun ada hal yang lebih mendasar untuk dipahami oleh kaum muslimin, yaitu akar dari upacara-upacara syirik seperti ini berasal dari ajaran sesat Aliran Kebatinan atau yang juga dikenal dengan istilah Kejawen. Ajaran ini adalah sisa-sisa paganisme sebelum cahaya Islam menyinari nusantara dan masih dilestarikan oleh sebagian orang di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Ajaran ini tidak ada hubungan sedikitpun dengan Islam, bahkan sangat bertentangan dengan Islam. Betapa tidak, ajaran Islam dibangun di atas tauhid dan sunnah, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan meneladani Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Sedangkan ajaran Kebatinan atau Kejawen dibangun di atas kesyirikan dan kedurhakaan kepada Allah Rabul’alamin.

Kekafiran Ajaran Kebatinan atau Kejawen

Pertama: Sinkretisme, mencampurkan antara Hindu, Budha dan Islam

Aliran Kebatinan atau Kejawen tidak menganggap salah ajaran Hindu dan Budha, bahkan mereka mencampurnya dengan Islam hingga menjadi suatu ajaran tersendiri. Adapun dalam Islam, barangsiapa yang membenarkan agama selain Islam, berarti dia telah kafir kepada Allah Ta’ala dan mendustakan Al-Qur’an. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Juga firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Kedua: Mereka tidak meyakini Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang benar

Padahal inilah inti dari kalimat syahadat [لاإله إلاالله], yang terdapat padanya dua rukun. Pertama: An-Nafyu (penafikan), yang tedapat dalam kalimat [لاإله], maknanya adalah menafikan atau menganggap salah semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Kedua: Al-Itsbat (penetapan), yang terdapat dalam kalimat [إلاالله], yaitu menetapkan atau meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya sesmbahan yang benar. Sehingga makna kalimat [لاإله إلاالله] adalah, “Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Ta’ala”.

Makna ini terdapat dalam banyak ayat, diantaranya firman Allah Ta’ala:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu karena Allah Dialah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)

Dan telah dimaklumi bersama bahwa syahadat [لاإله إلاالله] adalah pintu masuk ke dalam Islam, barangsiapa yang belum merealisasikannya berarti dia belum masuk ke dalam Islam. Demikian pula orang yang telah memasukinya, jika dia melanggarnya berarti dia telah keluar dari Islam.

Ketiga dan keempat: Kesyirikan dalam rububiyyah dan uluhiyyah

Keyakinan mereka bahwa setan-setan Merapi dan Pantai Selatan, seperti Kyai Sapu Jagat, Petruk dan Nyai Roro Kidul adalah pelindung-pelindung mereka, yang bisa memberikan manfaat dan juga menimpakan mudharat, adalah kesyirikan dalam rububiyyah.

Mereka juga mendekatkan diri (taqorrub) kepada setan-setan itu dengan berbagai upacara dan mempersembahkan berbagai macam bentuk ibadah, maka ini adalah kesyirikan dalam uluhiyyah, sebagaimana telah kami jelaskan secara singkat pada artikel sebelumnya yang berjudul, Renungan Musibah Merapi http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/07/renungan-musibah-merapi/

Kelima: Tidak melaksanakan shalat

Aliran Kebatinan atau Kejawen tidak mementingkan masalah shalat lima waktu, bagi mereka yang penting sudah eling maka itu cukup sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Ini adalah bentuk kekafiran kepada Allah Ta’ala, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

إن بين الرجل وبين الشرك، والكفر، ترك الصلاة

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma)

Permasalahan ini juga telah kami singgung dalam artikel yang berjudul, Keagungan Sholat dalam Islam: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/02/keagungan-sholat-dalam-islam/

Jika telah jelas bahwa ajaran Kejawen bukanlah ajaran Islam dan penganutnya bukan muslim, maka wajib bagi setiap muslim untuk berlepas diri (bara’) dari ajaran sesat ini dan penganutnya. Yaitu meyakini bahwa ajaran Kejawen adalah kekafiran kepada Allah Ta’ala dan menganggap bahwa penganutnya adalah orang-orang kafir.

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan mereka atau malah membenarkan ajaran mereka atau sekedar ragu dengan kekafiran mereka maka dia juga kafir seperti mereka. Permasalan ini telah kami bahas dalam ceramah yang berjudul, Pembatal-pembatal Keislaman: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/08/08/pembatal-pembatal-keislaman/

Demikianlah ulasan ringkas tentang kekafiran ajaran Kebatinan atau Kejawen yang masih dianut oleh sebagian orang Jawa dan menganggapnya sebagai ajaran Islam. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.

Wallahu A’lam.

Artikel terkait: Renungan Musibah Merapi http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/07/renungan-musibah-merapi/

Dari: http://www.facebook.com/SofyanRuray/posts/117434131653311

Sumber: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/10/musibah-merapi-menyingkap-kesesatan-aliran-kebatinan-kejawen/

HARAPAN: Sebarkanlah nasihat dan dakwah ini kepada kaum muslimin, melaui status, notes, dll. Semoga menjadi sebab hidayah insya Allah Ta’ala.

salam magelang

8 November 2010 at 00:10 | Posted in Ceritaku, Info | Leave a comment

Bismillah

Sabtu, 6 November 2010.

Berjarak lebih dari 20 km tidak menyurutkan KMTers (Keluarga Muslim Teknik) untuk membantu daerah pengungsian di Salam, Magelang. Bahan-bahan mentah dikirim dengan menggunakan mobil, sisanya dengan motor. Jalan yang rusak ditambah jarak pandang yang hanya 20 m akibat hujan abu vulkanik menyebabkan perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kecepatan 50 km/jam.

Sesampainya disana, hari sudah mulai gelap. Listrik pun padam sejak Jumat (5/11) lalu. Satu generator yang ada pun hanya mencukupi kebutuhan penerangan untuk barak dan gudang barang-barang yang jaraknya berdekatan. Desa Tersan Gede, Kecamatan Salam, belum terjamah lembaga bantuan seperti PMI, BSMI, dsb. Hanya relawan KMT, itupun membantu dengan seadanya.

Desa tersan gede yang memiliki 12 Dusun termasuk daerah yang belum terjamah. Para pengungsi pun juga menjadi relawan bagi pengungsi-pengungsi lainnya. Mereka saling bekerjasama bahu membahu. Barak-barak pengungsi kebanyakan ada di sekolah-sekolah, tapi tak jarang pula yang diungsikan di rumah warga-warga sekitar. Sebagian besar pengungsi adalah para lansia, ibu-ibu dan anak-anak. Orang-orang desa memang memiliki tepa slira yang tinggi.

KMT mengirimkan bantuan berupa bahan sembako seperti lombok, bawang merah dan putih, gula, beras, telur, dsb. Sesampai disana, relawan KMT bergegas bekerja. Setelah berkoordinasi dengan penduduk setempat para relawan dengan menggunakan pacul hasil pinjaman membuat tempat sampah.

Malam hari, para relawan juga masyarakat sekitar bergantian menjaga keamanan dan bersiap siaga dengan keadaan. Atas koordinasi pemerintah setempat, relawan bertugas melihat kondisi pengungsi di beberapa dusun lainnya. Dengan menggunakan mobil bak, relawan menyusuri dinginnya malam untuk melihat kondisi pengungsi lainnya. Pohon-pohon banyak yang bertumbangan, kawasan yang dulunya indah kini rusak oleh abu juga pohon yang rusak. Gerimis hujan menemani dinginnya malam itu.

Laporan dari Desa Tersan Gede, Kecamatan Salam, Magelang. Relawan mengucapkan Salam Merapi!


* jangan pernah lelah untuk membantu, semoga ini menjadi penghapus dosa-dosa kita.

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.